Friday, 22 November 2019

Mendongkrak Perekonomian Daerah Melalui Kopi Papua

JAYAPURA, KOMPAS.com - Aroma kopi tercium di setiap penjuru Halaman Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Papua yang menjadi lokasi penyelenggaraan Festival Kopi Papua 2019 21-23 November.

Total ada 40 stan yang hadir menawarkan produk kopi yang berasal dari berbagai kabupaten di Papua.

Selama satu tahun terakhir, kopi menjadi sebuah komoditi yang bisa mendongkrak perekonomian, baik dari sisi hulu hingga hilirnya.

Kepala KPw BI Papua, Naek Tigor Sinaga menyebut kini sudah banyak bermunculan warung hingga gerai kopi sejak Festival Kopi Papua pertama digelar pada 2018.

Kepala KPw BI Papua, Naek Tigor Sinaga menyebut kini sudah banyak bermunculan warung hingga gerai kopi sejak Festival Kopi Papua pertama digelar pada 2018. 

Meski sebagian besar masih berada di Kota dan Kabupaten Jayapura. "Sejak dimulai pada 2018, lonjakan coffee shop mencapai 100 persen, bahkan sudah ada yang mobile," ujarnya di Jayapura, Kamis (21/11/2019). 

Di bagian hulu, BI yang juga mendorong perbankan, terus melakukan pembinaan terhadap petani kopi agar produksi mereka bisa ditingkatkan.

Saat ini jumlah produksi kopi Papua baru memenuhi 0,3 persen dari jumlah nasional. 

"Kami mencoba membina di bagian hulu melalui perbankan, dan di hilirnya kami membuat pameran seperti ini," kata Tigor.

Kualitas kopi papua 

Walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano, menilai kopi kini sudah menjadi salah satu komoditas utama di tengah masyarakat.

Kopi Papua ia anggap memiliki kualitas yang tidak kalah dengan kopi-kopi dari daerah lain di seluruh Indonesia

Karenanya ia menantang para petani dan juga barista adal Papua bisa berkompetisi di skala nasional. 
"Kopi Papua punya kualitas yang sama dengan kopi dari daerah lain di Indonesia. Jadi jangan kita jago kandang, ikuti kompetisi kopi di daerah lain," tutur Mano.

Kopi Papua Jadi Souvenir PON

Nilai ekonomis Kopi Papua juga didorong dengan menjadikannya sebagai oleh-oleh khas saat pelaksanaan PON XX 2020 di Papua. 

Karenanya Mano mengimbau para pedagang kopi bisa membuat inovasi guna menghadapi event tersebut.

"Maka itu kita minta daerah-daerah bisa mengemasnya lebih baik lagi untuk bisa kita jual sebagai produk yang membanggakan bagi masyarakat Papua," kata dia. 

Dengan akan datangnya belasan ribu tamu ke Papua pada pelaksanaan PON 2020, Mano melihat Kopi Papua bisa memiliki peminat tersendiri. 

Ia bahkan meminta pemasaran Kopi Papua juga bisa dilakukan di beberapa bandara besar di Indonesia, seperti di Soekarno-Hatta, Bali, dan lainnya. 

Sementara Kepala KPw BI Papua, Naek Tigor Sinaga memandang keberadaan Kopi Papua bisa dikombinasikan dengan objek-objek wisata yang ada di Jayapura. 

Hal tersebut ia pandamg dapat menambah nilai ekonomis kopi Papua. 

"Ini bisa menjadi penunjang sektor pariwisata dengan mengkombinasikannya dengan objek wisata," kata Tigor.

Kopi Papua Membuka Lapangan Kerja


Kopi Papua Membuka Lapangan Kerja Tidak hanya dari sisi ekonomi, Kopi Papua kini juga telah berdampak pada sisi sosial. 

Setidaknya hal tersebut yang dilihat oleh Piter Tan, Pemilik Pits Corner yang merupakan salah satu pelopor gerai kopi di Jayapura. 

Piter yang juga memiliki sekolah barista, menyebut selama setahun terakhir banyak bermunculan warung hingga gerai kopi. 

"Tahun lalu masih belasan gerai, sekarang ini sudah sekitar 40 warung/gerai kopi, ini pasti berdampak pada sisi sosial karena mampu membuka lapangan pekerjaan," tutur Piter. 

Selain itu, ia mengungkapkan bila kini sudah banyak generasi muda Papua yang ingin menjadi peracik kopi (barista). 

Dengan semakin banyaknya gerai/warung kopi dan hotel di Papua, keberadaan Barista diyakini akan sangat dibutuhkan sehingga akan semakin banyak generasi muda yang terhindar dari hal-hal negatif.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mendongkrak Perekonomian Daerah Melalui Kopi Papua", https://regional.kompas.com/read/2019/11/22/12233781/mendongkrak-perekonomian-daerah-melalui-kopi-papua?page=all.
Penulis : Kontributor Jayapura, Dhias Suwandi
Editor : Aprillia Ika

Friday, 19 October 2018

Learning from Achievements of Papua Coffee in Papua New Guinea

I did not have any clue at all about Papua New Guinea in general and PNG Coffee in particular until I visited PNG two times so far.

What I learned so far is a reality that tje coffee business on the eastern side of thr Isle of New Guinea has gone very far, if I am avoidingwto say too far,  from the reality and progress of coffee business in West Papua.

First of all,  coffee business in West Papua just started with the funding assistance of USAID AMARTA since 2007, while on the othet side of the Island started the coffee business since 1980s,  more than 20 years ahead.

Firstly really I felt discouraged to think and do anything about coffee from West Papua but I told myself to be optimistic and step forward. The reason is simple,  coffee business in this islandwis already on top of world business activities thus what I shoukd do is to join what PNG has achieved so far and continue the journey.

I then decided to sell coffee from New Guinea not just from western part,  not ezcluding coffee from eastern part of the Isle of New Guinea  I am now ready to sell my New Guinea Coffees

Please visit my online store www.melanesia.store and www.papuamart.com

Ot Contact me at info@pas.coffee

Cheers

Monday, 24 September 2018

Sent Out to Sell PAPUA. coffee with No Basic Skills or Knowledge

Many might think Papua.coffee or. papuacoffees.com business started with enough knowledge,  skill and even financial capitals.  I Jhon Yonathan Kwano must honestly acknowledge that it started empty handed.

I was a single flighter sent into Java sea of coffee life,  without any clue of what might turn out.

When I was appointed I first of all asked myself why me.  Fair enough the Baliem Arabica coop members thought all who speak English like myself will know many things.

They were wrong because I had no knowledge no skill and even I did mot drink coffee myself.

The first thing I asked from tue coop was to stoo exporting PAPUA.coffee and start selling all to Indonesian buyers.

The frst thing I did after renting a house in Maguwoharjo Depok Sleman JOGJAKARTA was promoting the coffee online by prtchasing papuamart.com and three months later purchasing papuacoffees.com

For six months I did not sense anything was happening. i promoted online and also I distributed green beans to various cafes in Yogyakarta.

Then qe were also invited to participate in various coffee events in Jakarta and JOGJAKARTA.

I repeatedly tokd myself to trust my tribal eldera who have no idea about coffee, marketing, business and so on.  Right now we are one of the coffee players in West Papua.

Right now I write this article on my way to Port Moresby to learn marketing and sales skills that are very well set up and ready for global market.

This trip to Port Moresby Papua New Guinea will give me clue on how KSU Baliem Arabica promote and sell Baliem Blue Coffee to Melanesian market.

I personally can see clearly this is new challenge whole sets of circumstances around Melanesia,  Wantok System,  business and politics.

By politics I mean the business politics from governments in West Papua, Indonesia, Papua New Guinea and Melanesian Spearhead Grouop (MSG)

My prayer is that only God's will and the will of my elders will prevail, but not those of mine.

Saturday, 12 May 2018

Kopi Papua brand Baliem Bule Coffee hadir di Port Vila Vanuatu

Sejak tanggal 1 Desember 2017 Kopi Papua brand Baliem Blue Coffee telah hadir di Port Vila Vanuatu dan tahap kedua hadir Maret 2018 beberapa masyarakat setempat telah merasakan kopi Papua.

Beberapa orang yang sempat menikmati kopi Papua bersyukur bahwa mereka bisa meminum Kopi bustan Orang Asli Papua (OAP)  atau Orang Asli Melanesia (OAM).

Rasa Kopi Papua memang unik.

Masyarakat Vanuatu butuh Kopi di pagi hari karena pada jam petang mereka punya kafa untuk membantu mereka tidur nyenyak di malam hari.  Waktu bangun pagi mereka butuh Kopi untuk beraktifitas.

Morning coffee evening kava hidup jadi sentosa